01 Juli 2008

Warga Banjarsari yang Gigih


Pada hari jumat, 22 Februari 2008 melakukan kunjungan kegiatan ke Kampung Banjar sari, kecamatan Baradatu. Kegiatan pembangunan Jembatan Gantung sepanjang 60 meter x1,25 meter. Dana dari PNPM PPK TA 2007 sebesar Rp70 juta dan swadaya HOK Rp 23 juta. Dana kegiatan ini sangat minim karena merupakan ranking terakhir yang memperoleh dana sisa dari ranking atasnya. Tapi karena antusiasme masyarakatnya, mereka akhirnya tetap memanfaatkan dana sisa tersebut untuk pembelian material, sementara upah tenaga ditanggung secara bersama oleh warga kampung Banjarsari. Karena manfaat yang diperoleh secara ekonomis sangat tinggi kalau jembatan gantung selesai.
Pertemuan dengan TPK bp. Supriyono cukup menjelaskan proses pelaksanaan pekerjaan tersebut. Kampung Banjarsari dihuni lk.227 kk yang mayoritas adalah keturunan Jawa (80%) dan sisanya campuran Ogan/ Lampung. Mata pencaharian mereka terutama berkebun seperti karet, kopi, cabe dan sayur. Lokasi perkebunan warga sebagian berada diseberang sungai Way Besai yang membelah desa Banjarsari dengan Desa Tiuh Balak II di Kec Gunung Labuan. Untuk menghubungkan lokasi perkampungan dengan perkebunan warga menggunakan rakit bambu sebagai sarana transportasi menyeberang sungai selebar 60 meter tersebut.
Akses melalui sungai ini rata-rata 2 kali sehari oleh seluruh warga desa yang berkebun mencapai 90% jumlah penduduk. Maka setiap pagi pukul 08.00 Wib dan sore pukul 16.00 Wib sungai dengan rakitnya banyak dipakai warga. Sementara untuk membawa hasil panen biasanya menggunakan ojek dengan jalan memutar desa lain dengan biaya lebih mahal 2 kali lipat daripada melewati jembatan yang akan dibangun. Masa panen kebun biasanya bulan April, Mei, Juni untuk Kopi. Bulan Februari dan Maret untuk Karet, dan Juli-Agustus untuk panen Lada. Biasanya upah ojek 1 karung seberat 50 Kg Rp 10.000 sekali jalan melalui desa lain yang lebih jauh.
Maka dengan tekad kuat, meskipun hanya kebagian dana lebih dari sisa ranking Rp 70 juta warga Banjarsari tetap ingin jembatan gantung dibangun. Maka sebanyak 150 warga dibagi dalam 12 kali putaran kerja (1800 HOK) melakukan upaya kerja swadaya tenaga untuk mewujudkan jembatan gantung. Selama hampir 60 hari mereka dengan semangat tinggi akhirnya menuntaskan jembatan Gantung dambaan warga dengan sempurna. Tanggal 18 Februari 2008 mereka melakukan MDST dengan suka cita penuh keharuan.
Maka beratus-ratus karung panen dan hasil kebun mereka tidak lagi harus berputar2 sampai ke desa. Dan upah angkutnya menurut pak Priyono turun separuh dari biasanya karena lebih dekat dan mudah. Pagi dan sore pun ibu/ bapak yang dari kebun tidak perlu antri menunggu rakit, jembatan terbentang diatas Way Besai sepanjang 60 meter siap mengantarkan mereka.
Dengan penuh haru dan bangga mereka sangat berterima kasih dengan PNPM PPK serta fasilitatornya.

MASYARAKAT MULAI MANDIRI

Dengan berboncengan motor bebek kami berencana menyusuri pembangunan jalan desa yang didanai PPK. Untuk menuju lokasi kegiatan kami melewati jalan yang dikiri kanannya dipenuhi oleh pohon-pohon karet masyarakat membuat suasana terik siang itu menjadi sejuk. Pohon-pohon karet berjejer tinggi dan lurus, menimbulkan suasana sensasi alam tersendiri.

Menurut pengakuan TPK, pak Teguh yang mendampingi perjalanan, “alangkah hebatnya kalau pembangunan dilakukan dengan cara PPK. Harusnya para pemimpin bisa melihat hasil yang dikerjakan masyarakat ini”. Katanya dengan mimik serius.

Kalau dibandingkan dengan pekerjaan dari APBD untuk jalan sepanjang 2 km x 3m x 0,15m dengan biaya Rp. 500.000.000 atau kalau dirata-rata dapat dihitung biaya pembangunan sebesar Rp. 250.000/m’. Di lokasi yang berdekatan sedang dibangun Jalan PPK siklus 9 dengan panjang 1.5 km x 3 m x 0,15 m dibangun Rp. 215.000.000 atau equivalent bila dikerjakan oleh pemborong daerah dengan dana APBD + Rp. 375.000.000. Terjadi efisiensi pekerjaan PPK untuk proyek sejenis sebesar Rp. 160.000.000 (42,7%).

Perkerasan jalan desa Dwi Warga Tunggal Jaya yang menghubungkan dua desa dan merupakan jalan utama masyarakat Dwi Warga Tunggal Jaya dan Moris Jaya ( RK 5 ) Untuk mengeluarkan hasil bumi mereka. Jalan berukuran 1,5 km x 3 m x 0,15 m dengan total biaya Rp. 215.484.500


PPK hanya perlu dana 57% dari anggaran APBD/ Pemerintah untuk membangun pekerjaan sejenis. Suatu angka yang cukup menjanjikan kalau tidak dikatakan fantastis. Faktor utama bukan karena pekerja nya gratisan. Menurut Yono kader teknis desa, “proyek PPK sangat kuat dibidang control keuangan, control kualitas pekerjaan. Maka kebocoran-kebococran yang lumrah terjadi diproyek-proyek sarana prasarana baik APBD maupun APBN sangat sulit terjadi di PPK.” Kecuali mau dipenjara, begitu lanjutnya.

Kunjungan pada desa lain yaitu Moris Jaya kecamatan Banjar Agung juga membuktikan dimana Jembatan Rangka Baja ( H Beam ) lantai Beton sepanjang 4 x 7 m x 0.25 dan satu jembatan lantai beton 4 x 6 m dibangun tahun 2003 dengan biaya sebesar Rp. 74.101.900,- proyek sejenis dengan ukuran sama dari proyek APBD sebesar Rp. 120.000.000 untuk satu unit jembatan. Artinya satu unit jembatan di PPK dengan kualitas yang sama (kadang lebih baik) hanya membutuhkan dana 25% dari dana yang diperlukan bila dikerjakan oleh pihak yang ditunjuk pemerintah daerah. Sekali lagi Fantastis…!



Sumur Bor PPK

Perjalanan kami tak berhenti disitu, monitoring hasil yang sudah dibangun PPK sampailah kami di lokasi sumur bor warga hasil PPK. Masih terawatt dan sangat bermanfaat.
Berikut kisah yang kami catat…Bermula dari sulitnya Sumber Air bersih di musim kemarau, maka masyarakat desa Dwi Warga Tunggal Jaya Kec. Banjar Agung sebanyak 8 RK mengajukan Sumur Bor. Maka pada PPK Siklus 6 th 2005 mereka mengajukan usulan Sumur Bor.

Lahan untuk sumur Bor dan Menara air yang harus disiapkan oleh warga diperoleh dari hibah tanah mereka, rata – rata dengan ukuran 4 x 6 meter. Harga tanah perumahan sudah mecapai Rp 100.000/m2, karena berdekatan dekat pasar kecamatan. Dengan kedalaman sumur 60 meter, menggunakan mesin Pompa Sesuai Specifikasi Grundfos JDF 5 dengan 2 tanki di menara Air maka kucuran Air bersih mulai mengalir untuk + 60 KK di setiap RK.

Maka selama kemarau 2006 yang terjadi sampai bulan Desember 2006 lalu, puluhan Jerigen Air berjejer antri menunggu diisi petugas pompa setiap hari dari pagi sampai sore hari menjelang magrib.

Kata mereka, “Air PPK lancar, bersih dan pungutan jerigen Rp. 250 untuk kas Tim Pemelihara. Dibandingkan harga air yang di jual tanki Air/PAM sebesar Rp. 1000/jerigen”.

Alhasil, pada januari 2007 ini pengelola air bersih khususnya di RK 6 sudah memiliki kas sebesar Rp. 13.000.000. Nilai yang sama dengan biaya pembangunan Sumur Bor tersebut sebesar + Rp. 13.000.000 pada tahun 2005. Total Pembuatan sumur bor sebanyak 8 unit adalah sebesar Rp. 110.976.100.

“ Semua bangunan sumur bor terawat dan bermanfaat, apalagi dibandingkan sumur yang dibangun pihak ketiga yang sudah rusak sebelum di pakai,” ujar pak Teguh TPK DWT Jaya.

“ Dana PPK gak ada yang bocor Pak, malah melampaui target karena banyak yang di tambah volume oleh warga.” Lanjutnya.
Sekali lagi…mereka sudah mulai mandiri…!!!


Masyarakat Desa Dwi Warga Tunggal Jaya RK 6 sabar untuk antri dalam mendapatkan air bersih, Mereka sangat senang dengan adanya Sumur Bor di desanya karena mudah dan murah untuk mendapatkan air. Kas mereka sampai dengan akhir desember ini sudah mencapai Rp. 13.000.000.

Lembah Anai







04 Juni 2008

MEMBERDAYAKAN ORANG MISKIN

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT dan PENANGGULANGAN KEMISKINAN
oleh John Odhius

Sebagaiman diketahui bahwa secara nasional pemerintah sudah mencanangkan 8 prioritas Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2008, diantaranya adalah Peningkatan efektifitas Penanggulangan Kemiskinan. Salah satu upaya untuk Peningkatan efektifitas Penanggulangan kemiskinan adalah dengan mengembangkan dan meningkatkan Pelaksanaan PNPM Mandiri pada tahun 2008. Peningkatan PNPM Mandiri tahun 2008 dilakukan dengan memperluas jangkauan dan sasaran serta penyempurnaan pada teknis pelaksanaanya.
Pada tahun 2008 khusus untuk provinsi Lampung PNPM Mandiri Perdesaan melibatkan partisipasi sebanyak 9 kabupaten pada 68 kecamatan, meliputi 1028 desa dengan total alokasi bantuan langsung masyarakat sebesar Rp 117.750.000.000,- yang akan dikelola secara mandiri oleh masyarakat perdesaan.
Program-program yang berbasis pemberdayaan seperti PNPM Mandiri Perdesaan telah memberi banyak pengalaman dalam menekan biaya untuk suatu pekerjaan dengan kualitas yang sama yang dikerjakan program non pemberdayaan. Berbagai pengalaman belajar yang dialami oleh masyarakat dan fasilitator menunjukkan bahwa rasa tanggung jawab sosial, rasa memiliki dan kejujuran masyarakat sangat tinggi bahkan melebihi perkiraan. Masyarakat lebih cerdas dan lihai menyelesaikan persoalan-persoalan lokal mereka. Hal inilah yang selama ini terabaikan.
Bangsa Indonesia dan provinsi Lampung khususnya memiliki persoalan kemiskinan dan pengangguran. Kemiskinan dapat dilihat dari tiga pendekatan yaitu kemiskinan alamiah, kemiskinan struktural, dan kesenjangan antar wilayah. Upaya untuk menanggulanginya harus menggunakan pendekatan multi disiplin yang berdimensi pemberdayaan. Pemberdayaan yang tepat harus memadukan aspek-aspek penyadaran, peningkatan kapasitas, dan pendayagunaan.
Pengertian kemiskinan yang lebih luas disampaikan oleh John Friedman (Ala, 1996:4) yang menyatakan bahwa kemiskinan sebagai ketidaksamaan untuk mengakumulasikan basis kekuasaaan sosial, yaitu kemampuan untuk menguasai peluang strategis yang bisa mempengaruhi kehidupan sosial, ekonomi, dan politik.
Di samping angka kemiskinan yang disampaikan oleh BPS maka dilihat dari Human Development Index (HDI) atau Indeks Pembangunan Manusia di Indonesia masih sangat rendah, dibandingkan dengan kualitas manusia di negara-negara lain di dunia. Berdasarkan Human Development Report 2006, Indonesia hanya menempati urutan ke-108 dari 177 negara, hal ini berimplikasi pada produktivitas manusia yang rendah yang pada tahun 2006 berada di peringkat ke-60 dari 61 negara pada tahun 2006 dalam World Competitiveness Year Book.
Akan tetapi, permasalahan kemiskinan dan pengangguran sebagai dampak pembangunan merupakan masalah bersama seluruh elemen anak bangsa yang harus segera ditangani. Oleh karenanya, upaya untuk tidak lagi mengandalkan sumber daya alam semata, tetapi melalui peningkatan peran manusia dalam pembangunan menduduki fungsi vital strategis. Apalagi di era otonomi daerah saat ini sebagian langkah tersebut berada di tangan pemerintah daerah. Peran daerah akan semakin dominan dan strategis dalam proses pembangunan nasional. Hal ini sangat relevan dengan strategi 3 jalur pemerintah (triple track strategy), yang pro growth, pro employment, pro poor.
Maka dalam tulisan ini mengemukakan dasar pemikiran startegi pemberdayaan dan penguatan kelembagaan masyarakat dalam penanggulangan kemiskinan dapat dilakukan dengan kombinasi dan sinergisitas berupa bantuan langsung jangka pendek sebagai stimulan, meningkatkan modal sosial (social capital), perbaikan tata pemerintahan (good governance) serta peningkatan kapasitas kelembagaan masyarakt serta fungsi kontrolnya terhadap proses pembangunan tersebut.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
Pada tahun 1997 pemikir terkemuka Francis Fukuyama menghidupkan kembali konsep lama tentang modal sosial kedalam perspektif pembangunan ekonomi dan peradaban bangsa. Bahkan beberapa ilmuwan muda seperti Deepa Narayan, Peter Evans dan lain-lain secara lebih dalam mengupas falsafah modal sosial kedalam strategi besar pengentasan kemiskinan, pemberdayaan masyarakat, dan proses demokratisasi. Modal sosial adalah hakikat dan derajat keterlibatan individu dalam jaringan informal dan organisasi formal. Menjadi perekat yang merajut kelompok dan masyarakat yang didalamnya termasuk nilai hidup, norma dan kelembagaan aturan main yang dijunjung tinggi dan dihormati. Modal sosial akan mudah diakses dan dikembangkan melalui perbaikan rasa percaya dan saling menghargai dalam dimensi hubungan sosial dalam masyarakat, kelompok, negara bahkan dunia.
Pada sisi ini, sebetulnya apa yang dilakukan oleh program pemberdayaan masyarakat seperti PNPM Mandiri Perdesaan (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) menemukan media terbaiknya.
Conyers (1991) mengajukan tiga komponen pendekatan pemberdayaan masyarakat yaitu: a) adanya penekanan yang diarahkan pada fungsi kemandirian, termasuk sumber-sumber dan tenaga setempat serta kemampuan manajemen lokal; b) penekanan pada penyatuan masyarakat sebagai suatu kesatuan; terlihat dari adanya pembentukan organisasi-organsasi lokal dan; c) keyakinan umum mengenai situasi dan arah perubahan sosial serta masalah-masalah yang ditimbulkannya.
Pendekatan pertama adalah menolong diri sendiri, di mana masyarakat di kawasan perdesaan menjadi partisipan yang berarti dalam proses pembangunan dan melakukan kontrol dalam kegiatan pengembangan. Pendamping menjadi fasilitator. Sedangkan komunitas (masyarakat desa) memegang tanggungjawab utama dalam : a) memutuskan apa yang menjadi kebutuhannya; b) bagaimana memenuhi kebutuhan itu dan; c) mengerjakannya sendiri.
Masyarakat harus dilihat sebagai Subjek dari proses secara keseluruhan. Sehingga proses dari pelaksanaan kegiatan pelayanan dalam pengembangan masyarakat selalu meletakkan community development dan community organizers sebagai landasan. Dalam kerangka inilah pemberdayaan yang berbasis masyarakat mampu mendorong dari metode "doing for the community", menjadi "doing with the community". Dikemukakan oleh Topatimasang et.al (2000: ix) bahwa seorang fasilitator hanya berfungsi dan bertindak mengolah proses belajar masyarakat berdasarkan kebutuhan dan pengalaman mereka sendiri atau pengalaman orang lain.
PENGALAMAN PNPM MANDIRI PERDESAAN DALAM PENANGGULANGAN KEMISKINAN
Data berikut menarik untuk disimak, dimana pinjaman ekonomi bergulir yang diluncurkan oleh PNPM Mandiri Perdesaan kepada kelompok perempuan (simpan pinjam kelompok perempuan) sampai awal Maret 2008 Rp.28.940.063.466,- dengan tingkat pengembalian rata-rata 90%. Meliputi 1.775 kelompok terdiri dari 17.484 orang. Ini sebuah prestasi luar biasa masyarakat desa ditengah banyaknya konglomerat berdasi pengemplang hutang BLBI yang kabur membawa lari uang rakyat. Tingkat partisipasi warga miskin mencapai 66% dalam proses perencanaan dan pelaksanaan progran PNPM Mandiri Perdesaan, begitu juga partisipasi kaum perempuan yang mendekati separuhnya. Ini merupakan fakta empiris bagi para pemangku kepentingan untuk mengenalkan dan menerapkan pola pendekatan pembangunan partisipatif.
Pengalaman lain juga menunjukkan betapa penting dan perlunya kelembagaan masyarakat, pemerintah lokal dan modal sosial masyarakat dibangun. Seperti upaya warga Kampung Banjarsari, kecamatan Baradatu menyelesaikan secara swadaya Kegiatan pembangunan Jembatan Gantung sepanjang 60 meter melintasi Way Besai yang membelah desa tersebut menjadi bukti kemandirian mereka.
PESAN PILKADA
Salah satu agenda penting dalam pembangunan daerah kedepan adalah membumikan pembangunan partisipatif dan melibatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam penanggulangan kemiskinan, penciptaan lapangan pekerjaan, pendidikan dan kesehatan yang menjadi persoalan amat serius. Strategi yang paling jitu dalam mendorong partisipasi ini adalah 1) Memberikan kewenangan yang lebih luas kepada masyarakat dalam mengambil keputusan, 2) Meningkatkan sinergisitas antara masyarakat dan pemerintah daerah dalam penanggulangan kemiskinan, 3) Memberikan bantuan kepada masyarakat berupa dana bantuan langsung masyarakat (BLM / block grant), Pro Poor Budgeting dan bantuan pendampingan berupa technical assistance.
Secara empiris, pengalaman sosial dalam pengelolaan PNPM Mandiri Perdesaan bisa dijadikan laboratorium sosial pembangunan partisipatif oleh pemerintah daerah Lampung, khsusnya bagi calon gubernur/ wakil gubernur pemenang yang akan bertarung dalam pilgub 2008.----

John Odhius:
Alamat. Jalan Cendana 18 Kayu Manis-Way Halim
Telpon.0721-773728, Hp 0812 9678480.